SELAMAT DATANG DAN SILAHKAN TINGGALKAN KOMENTAR ANDA

VISITOR

Kamis, 28 Juni 2012

EKOLOGI, EKOSISTEM, DAN LINGKUNGAN HIDUP

EKOLOGI, EKOSISTEM, DAN LINGKUNGAN HIDUP

Diajukan untuk memenuhi tugas :
Semester 2, Ilmu Alamiah Dasar, Jurusan Manajemen, 2012  



 


Disusun Oleh :
Eko Nur Cahyono                           (11510119)
Chusnul Wafa Al Chumeid             (11510120)
Ahmad David Darissalam               (11510121)

JURUSAN  MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG


BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Munculnya masalah-masalah lingkungan dan alam pada akihr-akhir ini semakin mengkhawatirkan. Adanya masalah Global Warming, pencemaran lingkungan, pembabatan hutan liar, hilangnya lahan subur pertanian karena dijadikan kawasan pemukiman, dan musnahnya beberapa spesies penting dan langka, semakin membuat masalah tentang lingkungan pada saat ini, sangat rumit. Revolusi industri, majunya teknologi dan meningkatnya perkembangan transportasi, juga turut menyumbang banyak masalah dalam masalah-masalah lingkungan.
Khususnya di Negara kita Indonesia, juga muncul banyak sekali masalah, seperti kekurangan sumber air bersih, baik dari dalam tanah maupun dari sungai, polusi yang ditimbulkan oleh asap kendaraan maupun pembakaran hutan, tanah longsor, banjir  yang merendam lahan persawahan dan pemukiman penduduk bahkan sampai ke kota besar, kekurangan bahkan kepunahan populasi binatang, rusaknya lapisan ozon yang merupakan filter cahaya matahari ke bumi, sampai kepada masalah meluapnya lumpur panas dari dalam bumi yang menggusur kehidupan di sekitarnya.
Namun, beberapa pihak mulai sadar akan masalah-masalah ini, yang tentunya akan memberikan efek yang sangat buruk kepada kehidupan manusia dan bumi untuk masa depan. Maka mulai dipelajarilah Ilmu Ekologi, Ekosistem dan menguapayakan segala cara untuk menyelamatkan ala mini yang sudah terlampau rusak. Merekapun tidak berkecil hati dan terus-terus berupaya untuk hal itu. Dan hal ini, juga harus diajarkan pada masyarakat bahwa alam inisangat penting dan sangat berpengaruh dalam kehidupan mereka untuk saat ini dan kedepannya.
Untuk itu, kami juga akan sedikit menyalurkan ilmu tersebut dalam tulisan ini, sebagai andil kami dalam melestarikan alam ini.akan kami jelaskan secara singkat tentang Ekosistem, dan juga hal-hal yang berkaitan dengan hal tersebut.




BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian Ekosistem
Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi.
Ekosistem merupakan penggabungan dari setiap unit biosistem yang melibatkan interaksi timbal balik antara organisme dan lingkungan fisik sehingga aliran energi menuju kepada suatu struktur biotik tertentu dan terjadi suatu siklus materi antara organisme dan anorganisme. Matahari sebagai sumber dari semua energi yang ada.
Dalam ekosistem, organisme dalam komunitas berkembang bersama-sama dengan lingkungan fisik sebagai suatu sistem. Organisme akan beradaptasi dengan lingkungan fisik, sebaliknya organisme juga mempengaruhi lingkungan fisik untuk keperluan hidup. Pengertian ini didasarkan pada Hipotesis Gaia, yaitu: "organisme, khususnya mikroorganisme, bersama-sama dengan lingkungan fisik menghasilkan suatu sistem kontrol yang menjaga keadaan di bumi cocok untuk kehidupan". Hal ini mengarah pada kenyataan bahwa kandungan kimia atmosfer dan bumi sangat terkendali dan sangat berbeda dengan planet lain dalam tata surya.
Kehadiran, kelimpahan dan penyebaran suatu spesies dalam ekosistem ditentukan oleh tingkat ketersediaan sumber daya serta kondisi faktor kimiawi dan fisis yang harus berada dalam kisaran yang dapat ditoleransi oleh spesies tersebut, inilah yang disebut dengan hukum toleransi. Misalnya: Panda memiliki toleransi yang luas terhadap suhu, namun memiliki toleransi yang sempit terhadap makanannya, yaitu bambu. Dengan demikian, panda dapat hidup di ekosistem dengan kondisi apapun asalkan dalam ekosistem tersebut terdapat bambu sebagai sumber makanannya. Berbeda dengan makhluk hidup yang lain, manusia dapat memperlebar kisaran toleransinya karena kemampuannya untuk berpikir, mengembangkan teknologi dan memanipulasi alam.

Satuan-sauan makhluk hidup penyusun ekosistem.
Di dalam sebuah ekosistem juga terdapat satuan-satuan makhluk hidup yang meliputi individu,populasi,komunitas da biosfer.
Bagian-bagian satuan makhluk hidup penyusun ekosistem yaitu;
1.      Individu
Istilah individu berasal dari bahasa latin,yaitu in yang berarti tidak dan dividus yang berartidapat di bagi.Jadi individu adalah makhluk hidup yang berdiri sendiri yang secara fisiologis bersifat bebas atau tidak mempunyai hubungan dengan sesamanya.Individu juga disebut satuan makhluk hidup tunggal.
2.      Populasi.
Populasi berasal ari bahasa latin,yaitu populus yang berarti semua orang yang bertempat tinggal pada suatu tempat.Dalam ekosistem,populasi berarti kelompok makhluk hidup yang memiliki spesies sama (sejenis) dan menempati daerah tertentu.
3.      Komunitas
Komunitas adalah berbagai jenis makhluk hidup yang terdapat di suatu daerah yang sama,misalnya halaman sekolah.
4.      Biosfer
Biosfer adalaha semua ekossistem yang berada di permukaan bumi.

Komponen-Komponen Ekosistem
Ekosistem merupakan kesatuan dari seluruh komponen yang membangunnya. Di dalam suatu ekosisiem terdapat kesatuan proses yang saling terkait dan mempengauhi antar semua komponen.Pada suatu ekosistem terdapat komponen yang hidup(biotik) dan komponen tak hidup(abiotik).
1.      Komponen biotik
Manusia,hewan dsn tumbuhan termasuk koomponen biotik yaang terdapat dalamsuatu ekosistem. Komponen biotik di bedakan menjadi 3golongan yaitu ;produsen,konsumen dan dekomposer.
1.      Produsen
Semua produsen dapat menghasilkan makanannya sendiri sehingga disebut organisme autotrof. Sebagai produsen,tumbuhan hijau mnghasilkan makanan(karbohidrat) melalui proses potosintesis. Makanan di manfaatkan oleh tumbuhan itu sendiri maupun makhluk hidup lainnya. Dengan demikian produsen merupakan sumber energi utama bagi organisme lain,yaitu konsumen.
2.      Konsumen.
Semua konsumen tidak dapat membuat makanan sendiri di dalam tubuhnya sehingga disebut heterotrof. Mereka mendapatkan zat-zat organik yang telah di bentuk oleh produsen,atau dari konsumen lain yang menjadi mangsanya.
Berdasarkan jenis makanannya,konsumen di kelompokkan sebagai berikut;
a.       Pemakan tumbuhan (herbivora),misalnya kambing,kerbau,kelini dan sapi.
b.      Pemakan daging (karnivora),misalnya harimau,burung elang,dan serigala,
c.       Pemeken tmbuhan dan daging (omnivora),misalnya ayam,itik, dan orabg hutan.
3.      Pengurai (decomposer).
Kelompok ini berperan penting dalam ekosistem.Jika kelompok ini tidak ada, kita akan melihat sampah yang menggunung dan makhluk hidup yang mati tetap utuh selamanya. Dekomposer berperan sebagai pengurai,yang menguraikan zat-zat organik(dari bangkai) menjadi zat-zat organik penyusunnya.
2.      Komponen abiotik.
Bagian dari komponen abiotik adalah ;
1.      Tanah.
Sifat-sifa fisik tanah yang berperan dalam ekosistem meliputi tekstur,kematangan, dan kemapuan menahan air.
2.      Air.
Hal-hal penting pada air yang mempengaruri kehidupan makhluk hidup adalah suhu air,kadar mineral air,salinitas,arus air,penguapan,dan kedalaman air.
3.      Udara.
Udara merupakan lingkungan abiotik yang berupa gas.Gas itu berbentuk atmosfer yang melingkupi makhluk hidup. Oksigen,karbon dioksida,dan nitrogen merupakan gas yang paling pentung bagi kehidupan makhluk hidup.
4.      Cahaya matahari
Cahaya matahari merupakan sumber energi utama bagi kehidupan di bumi ini. Namun demikian,penyebara cahaya ddi bumi belum merata.Oleh karena itu, organisme harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang intensitas dan kualitas cahayanya berbeda.

5.      Suhu atau temperatur.
Setiap makhluk hidup memerlukan suhu optimum untuk kegiatan metabolisme dan perkembangbiakannya.
3.      Komponen autotrof
(Auto = sendiri dan trophikos = menyediakan makan).
Autotrof adalah organisme yang mampu menyediakan/mensintesis makanan sendiri yang berupa bahan organik dari bahan anorganik dengan bantuan energi seperti matahari dan kimia. Komponen autotrof berfungsi sebagai produsen, contohnya tumbuh-tumbuhan hijau.
4.      Komponen heterotrof
(Heteros = berbeda, trophikos = makanan).
Heterotrof merupakan organisme yang memanfaatkan bahan-bahan organik sebagai makanannya dan bahan tersebut disediakan oleh organisme lain. Yang tergolong heterotrof adalah manusia, hewan, jamur, dan mikroba.
Saling Ketergantungan Antara Biotik Dan Abiotik
Di dalam ekosistem terjadi saling ketergantungan antar komponen, sehingga apabila salah satu komponen mengalami gangguan maka mempengaruhi komponen lainnya. Ekosistem dikatakan seimbang apabila jumlah antara produsen, konsumen I dan konsumen II seimbang keterangan gambar anak panah : dimakan.
1 . Hubungan antara komponen biotik dan komponen abiotik
Keberadaan komponen abiotik dalam ekosistem sangat mempengaruhi komponen biotik. Misal: tumbuhan dapat hidup baik apabila lingkungan memberikan unsur-unsur yang dibutuhkan tumbuhan tersebut, contohnya air, udara, cahaya, dan garam–garam mineral. Begitu juga sebaliknya komponen biotik sangat mempengaruhi komponen abiotik yaitu tumbuhan yang ada di hutan sangat mempengaruhi keberadaan air, sehingga mata air dapat bertahan, tanah menjadi subur. Tetapi apabila tidak ada tumbuhan, air tidak dapat tertahan sehingga dapat menyebabkan tanah longsor dan menjadi tandus. Komponen abiotik yang tidak tergantung dengan biotik antara lain: gaya grafitasi, matahari, tekanan udara.
2 . Hubungan antara komponen biotik dengan komponen biotik
Di antara produsen, konsumen dan pengurai adalah saling ketergantungan. Tidak ada makhluk hidup yang hidup tanpa makhluk lainnya. Setiap makhluk hidup memerlukan makhluk hidup lainnya untuk saling mendukung kehidupan baik secara langsung maupun tak langsung. Hubungan saling ketergantungan antar produsen, konsumen dan pengurai. Terjadi melalui peristiwa makan dan memakan melalui peristiwa sebagai berikut:

a . Rantai makanan
Merupakan peristiwa makan dan dimakan dalam suatu ekosistem dengan urutan tertentu.

b . Jaring-jaring makanan
Merupakan sekumpulan rantai makanan yang saling berhubungan dalam suatu ekosistem. Seperti contoh jaring-jaring makanan di bawah ini terdiri dari 5 (lima) rantai makanan
c . Piramida makanan
Merupakan gambaran perbandingan antara produsen, konsumen I, konsumen II, dan seterusnya. Dalam piramida ini semakin ke puncak biomassanya semakin kecil.
d . Arus energi
Merupakan perpindahan energi dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Yaitu dari sinar matahari lalu produsen, ke konsumen tingkat I, ke konsumen tingkat II sampai pengurai. Sedangkan mineral membentuk siklus. Energi yang dilepas sangat kecil karena setiap organisme membutuhkan energi dalam memenuhi kebutuhannya.

e . Siklus energi
Merupakan perpindahan zat dari tempat satu ke tempat yang lainnya. Akhirnya akan kembali ke tempat zat itu berasal. Contoh lihat siklus air di bawah ini!

Keseimbangan ekosistem dapat terjadi bila ada hubangan timbal balik di antara komponen–komponen ekositem. Perhatikan grafik perbandingan jumlah produsen, herbivora dan karnivora!
Tipe-tipe Ekosistem
Secara umum ada tiga tipe ekosistem, yaitu ekositem air, ekosisten darat, dan ekosistem buatan
1.      Akuatik (air)
1.      Ekosistem air tawar.
Ciri-ciri ekosistem air tawar antara lain variasi suhu tidak menyolok, penetrasi cahaya kurang, dan terpengaruh oleh iklim dan cuaca. Macam tumbuhan yang terbanyak adalah jenis ganggang, sedangkan lainnya tumbuhan biji. Hampir semua filum hewan terdapat dalam air tawar. Organisme yang hidup di air tawar pada umumnya telah beradaptasi.
2.      Ekosistem air laut.
Habitat laut (oseanik) ditandai oleh salinitas (kadar garam) yang tinggi dengan ion CI- mencapai 55% terutama di daerah laut tropik, karena suhunya tinggi dan penguapan besar. Di daerah tropik, suhu laut sekitar 25 °C. Perbedaan suhu bagian atas dan bawah tinggi, sehingga terdapat batas antara lapisan air yang panas di bagian atas dengan air yang dingin di bagian bawah yang disebut daerah termoklin.
3.      Ekosistem estuari.
Estuari (muara) merupakan tempat bersatunya sungai dengan laut. Estuari sering dipagari oleh lempengan lumpur intertidal yang luas atau rawa garam. Ekosistem estuari memiliki produktivitas yang tinggi dan kaya akan nutrisi. Komunitas tumbuhan yang hidup di estuari antara lain rumput rawa garam, ganggang, dan fitoplankton. Komunitas hewannya antara lain berbagai cacing, kerang, kepiting, dan ikan.
4.      Ekosistem pantai.
Dinamakan demikian karena yang paling banyak tumbuh di gundukan pasir adalah tumbuhan Ipomoea pes caprae yang tahan terhadap hempasan gelombang dan angin. Tumbuhan yang hidup di ekosistem ini menjalar dan berdaun tebal.
5.      Ekosistem sungai.
Sungai adalah suatu badan air yang mengalir ke satu arah. Air sungai dingin dan jernih serta mengandung sedikit sedimen dan makanan. Aliran air dan gelombang secara konstan memberikan oksigen pada air. Suhu air bervariasi sesuai dengan ketinggian dan garis lintang. Ekosistem sungai dihuni oleh hewan seperti ikan kucing, gurame, kura-kura, ular, buaya, dan lumba-lumba.
6.      Ekosistem terumbu karang.
Ekosistem ini terdiri dari coral yang berada dekat pantai. Efisiensi ekosistem ini sangat tinggi. Hewan-hewan yang hidup di karang memakan organisme mikroskopis dan sisa organik lain. Berbagai invertebrata, mikro organisme, dan ikan, hidup di antara karang dan ganggang. Herbivora seperti siput, landak laut, ikan, menjadi mangsa bagi gurita, bintang laut, dan ikan karnivora. Kehadiran terumbu karang di dekat pantai membuat pantai memiliki pasir putih.
7.      Ekosistem laut dalam.
Kedalamannya lebih dari 6.000 m. Biasanya terdapat lele laut dan ikan laut yang dapat mengeluarkan cahaya. Sebagai produsen terdapat bakteri yang bersimbiosis dengan karang tertentu.
8.      Ekosistem lamun.
Lamun atau seagrass adalah satu‑satunya kelompok tumbuh-tumbuhan berbunga yang hidup di lingkungan laut. Tumbuh‑tumbuhan ini hidup di habitat perairan pantai yang dangkal. Seperti hal­nya rumput di darat, mereka mempunyai tunas berdaun yang tegak dan tangkai‑tangkai yang merayap yang efektif untuk berbiak. Berbeda dengan tumbuh‑tumbuhan laut lainnya (alga dan rumput laut), lamun berbunga, berbuah dan meng­hasilkan biji. Mereka juga mempunyai akar dan sistem internal untuk mengangkut gas dan zat‑zat hara. Sebagai sumber daya hayati, lamun banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.
2.      Terestrial (darat)
Penentuan zona dalam ekosistem terestrial ditentukan oleh temperatur dan curah hujan. Ekosistem terestrial dapat dikontrol oleh iklim dan gangguan. Iklim sangat penting untuk menentukan mengapa suatu ekosistem terestrial berada pada suatu tempat tertentu. Pola ekosistem dapat berubah akibat gangguan seperti petir, kebakaran, atau aktivitas manusia.
1.      Hutan hujan tropis.
Hutan hujan tropis terdapat di daerah tropik dan subtropik. Ciri-cirinya adalah curah hujan 200-225 cm per tahun. Spesies pepohonan relatif banyak, jenisnya berbeda antara satu dengan yang lainnya tergantung letak geografisnya. Tinggi pohon utama antara 20-40 m, cabang-cabang pohon tinggi dan berdaun lebat hingga membentuk tudung (kanopi). Dalam hutan basah terjadi perubahan iklim mikro, yaitu iklim yang langsung terdapat di sekitar organisme. Daerah tudung cukup mendapat sinar matahari, variasi suhu dan kelembapan tinggi, suhu sepanjang hari sekitar 25 °C. Dalam hutan hujan tropis sering terdapat tumbuhan khas, yaitu liana (rotan) dan anggrek sebagai epifit.() Hewannya antara lain, kera, burung, badak, babi hutan, harimau, dan burung hantu.
2.      Sabana.
Sabana dari daerah tropik terdapat di wilayah dengan curah hujan 40 – 60 inci per tahun, tetapi temepratur dan kelembaban masih tergantung musim. Sabana yang terluas di dunia terdapat di Afrika; namun di Australia juga terdapat sabana yang luas. Hewan yang hidup di sabana antara lain serangga dan mamalia seperti zebra, singa, dan hyena.
3.      Padang rumput.
Padang rumput terdapat di daerah yang terbentang dari daerah tropik ke subtropik. Ciri-ciri padang rumput adalah curah hujan kurang lebih 25-30 cm per tahun, hujan turun tidak teratur, porositas (peresapan air) tinggi, dan drainase (aliran air) cepat. Tumbuhan yang ada terdiri atas tumbuhan terna (herbs) dan rumput yang keduanya tergantung pada kelembapan. Hewannya antara lain: bison, zebra, singa, anjing liar, serigala, gajah, jerapah, kangguru, serangga, tikus dan ular.
4.      Gurun.
Gurun terdapat di daerah tropik yang berbatasan dengan padang rumput. Ciri-ciri ekosistem gurun adalah gersang dan curah hujan rendah (25 cm/tahun). Perbedaan suhu antara siang dan malam sangat besar. Tumbuhan semusim yang terdapat di gurun berukuran kecil. Selain itu, di gurun dijumpai pula tumbuhan menahun berdaun seperti duri contohnya kaktus, atau tak berdaun dan memiliki akar panjang serta mempunyai jaringan untuk menyimpan air. Hewan yang hidup di gurun antara lain rodentia, semut, ular, kadal, katak, kalajengking, dan beberapa hewan nokturnal lain.
5.      Hutan gugur.
Hutan gugur terdapat di daerah beriklim sedang yang memiliki emapt musim, ciri-cirinya adalah curah hujan merata sepanjang tahun. Jenis pohon sedikit (10 s/d 20) dan tidak terlalu rapat. Hewan yang terdapat di hutam gugur antara lain rusa, beruang, rubah, bajing, burung pelatuk, dan rakun (sebangsa luwak).
6.      Taiga
Taiga terdapat di belahan bumi sebelah utara dan di pegunungan daerah tropik, ciri-cirinya adalah suhu di musim dingin rendah. Biasanya taiga merupakan hutan yang tersusun atas satu spesies seperti konifer, pinus, dan sejenisnya. Semak dan tumbuhan basah sedikit sekali, sedangkan hewannya antara lain moose, beruang hitam, ajag, dan burung-burung yang bermigrasi ke selatan pada musim gugur.
7.      Tundra
Tundra terdapat di belahan bumi sebelah utara di dalam lingkaran kutub utara dan terdapat di puncak-puncak gunung tinggi. Pertumbuhan tanaman di daerah ini hanya 60 hari. Contoh tumbuhan yang dominan adalah sphagnum, liken, tumbuhan biji semusim, tumbuhan perdu, dan rumput alang-alang. Pada umumnya, tumbuhannya mampu beradaptasi dengan keadaan yang dingin.
8.      Karst (batu gamping /gua).
Karst berawal dari nama kawasan batu gamping di wilayah Yugoslavia. Kawasan karst di Indonesia rata-rata mempunyai ciri-ciri yang hampir sama yaitu, tanahnya kurang subur untuk pertanian, sensitif terhadap erosi, mudah longsor, bersifat rentan dengan pori-pori aerasi yang rendah, gaya permeabilitas yang lamban dan didominasi oleh pori-pori mikro. Ekosistem karst mengalami keunikan tersendiri, dengan keragaman aspek biotis yang tidak dijumpai di ekosistem lain.
3.      Buatan
Ekosistem buatan adalah ekosistem yang diciptakan manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Ekosistem buatan mendapatkan subsidi energi dari luar, tanaman atau hewan peliharaan didominasi pengaruh manusia, dan memiliki keanekaragaman rendah. Contoh ekosistem buatan adalah:
v  hutan tanaman produksi seperti jati dan pinus
v  agroekosistem berupa sawah tadah hujan
v  sawah irigasi
v  perkebunan sawit
v  ekosistem pemukiman seperti kota dan desa
v  ekosistem ruang angkasa.
Ekosistem kota memiliki metabolisme tinggi sehingga butuh energi yang banyak. Kebutuhan materi juga tinggi dan tergantung dari luar, serta memiliki pengeluaran yang eksesif seperti polusi dan panas.
Ekosistem ruang angkasa bukan merupakan suatu sistem tertutup yang dapat memenuhi sendiri kebutuhannya tanpa tergantung input dari luar. Semua ekosistem dan kehidupan selalu bergantung pada bumi.
Ekologi Dan Lingkungan Menurut Islam
            Perlindungan Alam
Dalam Islam, ketentuan mengenai perlindungan alam termasuk dalam kerangka aturan Syari‘at. Kehidupan liar (wildlife) termasuk dalam ketentuan yang dikenal dengan hima dalam aturan hukum Islam. Konsep hima,  menurut Omar Naseef adalah ―reserves established solely for the conservation of wildlife and forest, from the core of the environmental legislation of  Islam (Kawasan yang didirikan khusus untuk perlindungan kehidupan liar dan hutan, yang merupakan inti undang-undang lingkungan Islam). Dengan demikian,  hima adalah suatu usaha dalam melindungi hak-hak sumber daya alam yang asli. Hima   ditetapkan semata-mata untuk melestarikan kehidupan liar dan hutan. Dalam konsep sekarang, seperti juga digunakan di Indonesia, hima ini sama fungsinya dengan cagar alam (nature reserve).
Rasulullah saw. mencagarkan wilayah sekitar Madinah sebagai  hima untuk melindungi tumbuh-tumbuhan dan kehidupan liar lainnya, sebagaimana telah diungkapkan dimuka. Mencontoh Rasulullah saw. ,sejumlah Khalifah menetapkan pula beberapa  hima.  Khalifah Umar Ibn Khattab, misalnya, menetapkan  hima al-Syaraf   dan Hima al-Rabdah  yang cukup luas di dekat Dariyah. Khalifah Utsman Ibn ‗Affan, memperluas Hima al-Rabdah  tersebut    yang diriwayatkan mampu menampung 1000  ekor binatang setiap tahunnya. Sejumlah  hima    yang ditetapkan di Arabia Barat ditanami rumput sejak awal Islam dan dianggap oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) sebagai contoh yang paling lama bertahan dalam pengelolaan padang rumput secara bijaksana di dunia.
Kenyataan diatas memberikan pemahaman bahwa Islam, sejak zaman Rasulullah saw., telah memperhatikan lingkungan sebagai salah satu penunjang penting bagi kehidupan umat manusia. Memelihara lingkungan  alam dalam Islam merupakan suatu keharusan, yang berarti bahwa memelihara lingkungan alam adalah merupakan ibadah. 
Syariat adalah suatu sistem nilai; dia ada untuk mewujudkan nilai-nilai yang melekat dalam konsep-konsep utama Islam, seperti  tauhid, khilafah, istishlah, halal dan haram.  Tujuan utama dari sistem ini adalah mewujudkan kesejahteraan umum yang universal bagi semua makhluk Tuhan, mencakup kesejahteraan manusia di  masa sekarang maupun di masa depan (akhirat). Tujuan kesejahteraan umum yang universal adalah sesuatu yang khas dari syariat Islam dan merupakan implikasi penting dari konsep  tauhid. Manusia dapat mematuhi Yang Maha Pencipta dari segala kehidupan dengan cara bekerja demi kesejahteraan umum yang universal bagi semua makhluk.
Parameter tersebut dapat membedakan prilaku umat Islam dalam mentaati aturan, karena jika suatu peraturan tercakup dalam unsur syari‘at maka ia berarti mengandung unsur ibadah. Menjaga  lingkungan alam adalah salah satu bentuk pelaksanaan ibadah.
Hak Asasi Binatang
Rasulullah saw. telah meyakinkan bahwa kehidupan liar (wildlife) dan sumber da ya alam lainnya mempunyai hak dalam Islam. Hal ini dicontohkan dengan perlakuan beliau  terhadap binatang, tumbuh-tumbuhan, dan sumber alam lainnya. Dalam buku-buku sejarah tentang Rasulullah saw. diriwayatkan bahwa pribadi Rasulullah  saw.  berperangai sangat kasih kepada bangsa hewan. Rasulullah  saw.  melarang orang yang membebani binatang (onta, domba) dengan muatan beban yang berat. Rasulullah saw. memerintahkan agar menunggang binatang dengan laku perbuatan yang baik, dan binatang tersebut haruslah sedang dalam keadaan sehat. Rasulullah  saw.  menyuruh orang yang kebetulan memelihara binatang agar memeliharanya dengan baik. Jika binatang tersebut hendak dikonsumsi, hendaklah ia dalam keadaan baik pula, tidak dalam kesakitan. Rasulullah  saw.  melarang orang membunuh binatang, kecuali binatang yang hendak dikonsumsi.
Perlakuan dan sikap Rasulullah  saw.  terhadap binatang,  antara lain terlihat pada suatu peristiwa ketika Rasulullah saw. bepergian bersama para sahabatnya, termasuk Ibnu Mas‘ud    yang meriwayatkan hadis ini. Dalam perjalanan, ketika Rasulullah saw. berhajat, sahabat-sahabat Nabi melihat seekor burung yang mempunyai dua ekor anak, lalu sahabat mengambil kedua anak burung tersebut. Induk burung itu datang dan terbang diatas kepala mereka. Ketika menyaksikan hal itu Rasulullah saw. bersabda: ‗Siapakah yang menyusahkan burung ini dengan mengambil anaknya ? Kembalikan kepadanya anaknya.”
Selain itu, Nabi melarang menyiksa atau membakar binatang dengan api.  Hal ini terlihat pada kelanjutan riwayat perjalanan Rasulullah SAW. bersama sahabat-sahabat,  seperti  yang  diceritakan  oleh  Ibnu Mas‘ud  diatas:
Kemudian Nabi melihat sarang semut terbakar, maka beliau bertanya: Siapa yang membakar ini ? Jawab kami: “Kamilah yang membakarnya ya Rasulullah”. Rasulullah  saw. bersabda: “Tidak harus menyiksa dengan api, kecuali Tuhan yang menjadikan api itu.”
Banyak hal yang dapat dipelajari dari kebijakan-kebijakan dan kearifan Rasulullah  saw.  melalui riwayat-riwayat hadis mengenai makhluk hidup. Kepedulian Rasulullah saw. terhadap pelestarian alam dan lingkungan hidup memang telah mencakup karena risalah yang dibawanya adalah untuk mengadakan perbaikan di segala bidang (ishlah),  dan tetap relevan untuk dapat diimplementasikan oleh umat manusia di segala zaman.  Dalam Islam, hak azasi binatang juga dilindungi, sebagaimana kisah perjalanan sahabat bersama Rasulullah  saw.  diatas. Suatu yang khas dari hukum Islam bahwa semua binatang mempunyai hak hukum yang harus dilaksanakan oleh negara. Ahli hukum Islam klasik, Izzudin Ibn Abdis Salam, menetapkan bahwa hak-hak binatang menjadi salah satu unsur syariat.
Pola Konsumsi Manusia
Di dalam Al-Quran, sebagai sumber utama syari‘at Islam, Allah SWT secara jelas menyebutkan  tentang makanan yang boleh dimakan dan yang tidak boleh dimakan. Hal tersebut dapat disimak, antara lain, dalam Surat Al-Baqarah ayat 172 dan 173:
ƒ

172. Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.
173. Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. tetapi Barangsiapa dalam Keadaan terpaksa (memakannya) sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dalam  syari‘at Islam, berdasarkan ayat diatas, dan seperti yang diterapkan dalam hukum fikih, ketetapan-ketetapan hukum juga ditetapkan dalam menjaga prilaku konsumsi manusia. Syari‘at Islam sangat tegas dengan legitimasi praktis yang mempunyai dampak umum terhadap prilaku konsumsi. Jika dilihat, prilaku memilih makanan yang baik dan halal (halalan thayyiban) terlihat jelas mempunyai korelasi erat dengan aspek kepentingan lingkungan dan ekosistem. Umpamanya, dalam kerangka fikih, diharamkan memakan segala burung  yang bercakar, seperti rajawali (elang) dan segala burung bercakar yang memakan bangkai. Ahli ekologi sepakat bahwa perang burung-burung bercakar dan pemakan daging sangat diperlukan untuk menjaga ekosistem, karena mengurangi hama tikus. Burung kondor  –pemakan bangkai—di Afrika merupakan salah satu top predator yang sangat penting menjaga keseimbangan ekosistem savana Afrika.
Ketentuan fikih mengharamkan memakan segala binatang yang bertaring, seperti singa, harimau, serigala, beruang, kucing, gajah, dan  lain-lainnya. Dari aspek ekologi, kehadiran binatang-binatang tersebut diperlukan untuk keseimbangan ekosistem. Jika populasi harimau berkurang karena dikonsumsi manusia, umpamanya, maka jumlah babi hutan akan meningkat.
Demikianlah, syari‘at Islam melarang pula memakan binatang-binatang lain seperti babi, anjing, binatang buas dan binatang pemakan bangkai lainnya, termasuk binatang-binatang yang hidup di air kecuali ikan.
Jika ekploitasi yang dilakukan untuk konsumsi manusia tidak dikendalikan,maka tentunya akan merusak kehidupan manusia itu sendiri  --karena adakalanya binatang tersebut tidak sehat untuk dikonsumsi, bahkan menimbulkan penyakit-- dan merusak ekosistem di alam ini.  
Peranan penting syari‘at sebagai solusi menghadapi prilaku konsumsi manusia  sekarang ini merupakan hal yang mendesak. Banyak sekali perubahan yang terjadi pada alam, termasuk punahnya beberapa species hewan di muka bumi ini diakibatkan perburuan, perdagangan (baik legal maupun illegal), yang ujungnya adalah untuk konsumsi manusia, baik secara langsung ataupun tidak. Punahnya species dapat juga diakibatkan kehilangan habitat karena harus berkompetisi dan berebut lahan dengan manusia. 
Pola konsumsi yang telah ditetapkan dalam Islam merupakan suatu legitimasi kuat ajaran Islam yang  digolongkan kedalam urusan  ubudiyah. Dengan demikian, mentaatinya akan mendapat pahala. Allah SWT menganjurkan agar manusia memakan makanan yang baik-baik, sebagaimana firmanNya, antara lain, dalam Surat An-Nahl ayat 114:  
114. Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.
Berdasarkan ayat ini,  para ahli hukum Islam, melalui  fikih, menetapkan  halal    dan  haram    binatang tertentu. Dengan demikian,  hal ini akan sangat menolong determinasi mengenai hewan mana yang boleh dimakan dan mana  yang tidak boleh dimakan oleh seorang muslim. Segala bentuk larangan dan kebolehan dalam fikih yang diformulasikan oleh para fuqaha,  selain sebagai ibadah, adalah juga mempunyai misi kuat terhadap pelestarian alam dan lingkungan. 
Pada zaman sekarang, konsep halal dan haram ini, secara tidak disadari,  merupakan cikal bakal kesamaan pandangan masyarakat modern dalam mengarahkan  para  konsumen untuk mengkonsumsi produk yang berwawasan lingkungan melalui mekanisme ekolabel atau label hijau (green label).  Setiap produk makanan diberikan label ―halal yang dapat dikonotasikan bahwa seorang muslim aman untuk mengkonsumsinya.


BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
            Ekosistem mempunyai beberapa nama, yaitu Biocoenocis, Mikrocosm, dan Geobiocoenocis, yang maksudnya adalah suatu system yang terdiri dari unsur-unsur yang hidup (Biotok) dan yang mati (Abiotik) beserta interaksi antara satu dengan yang lainnya. Dan sistem ini berupa sistem yang teratur, mandiri dan mempunyai ketergantungan dan berkaitan satu sama lain. Sebuah keterikatan dan kompleksivitas yang teramat indah teratur.
            Dan kita sebagai muslimin yang baik, tentu kita juga mengamalkan Syari’at sebagai pedoman hokum. Syari‘at  Islam  diakui  oleh  pemeluknya  sebagai  rahmatan  lil ‘alamin. Aturan-aturan Islam tentang ekosistem, yang bersumber dari Al-Quran dan Hadits Nabi,  sesungguhnya adalah  sebagai rahmat bagi kehidupan manusia dan semua species di alam ini. Kebiasaan dan prilaku Rasulullah saw dalam pemeliharaan lingkungan (tumbuhan dan binatang) yang dicontoh dan diteruskan oleh para sahabatnya mencerminkan suatu pola pemeliharaan ekosistem  yang baik. Selayaknya, hal tersebut diteruskan oleh para pengikutnya sampai hari ini. 
            Disamping melaksanakan aturan syari‘at sebagai  ibadah mahdhah, umat Islam juga dapat memahami arti ibadah tersebut dalam hubungannya dengan alam, karena pembahasan tentang keseimbangan ekosistem sudah banyak dilakukan oleh para ahli. Hanya saja, pembahasan aspek syari‘at dengan lingkungan hidup belum begitu mendapat sorotan di Indonesia. Padahal ketaatan umat Islam dalam memilih makanan yang halal masih sangat dipatuhi di negri ini. 
            Berdasarkan hal diatas, satu hal yang perlu mendapat perhatian; prilaku masyarakat yang mayoritas muslim di Indonesia sangat menentukan terjaga dan lestarinya keseimbangan ekosistem. 




DAFTAR PUSTAKA

Jasin, Maskoeri Drs., 2008. Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta:PT. RajaGrafindo Persada
Campbell, Neil A., Reece; Jean B.; Taylor, Martha R.; Simon, Eric J., 2008. Biology. Jakarta:Erlangga